Why So Drama - Imam Darto

Truthly ini memang beneran tulisan beliau yang gue re-post dari sebuah website keren. It's officially from freemagz. Here we go...

Beberapa waktu yang lalu, saya iseng menyalakan TV dan seketika yang muncul adalah sebuah adegan sinetron menunjukkan seorang pria dan wanita, bertemu. Kesan pertama saya adalah "pasti pacaran nih!", karena melihat usia mereka yang sepertinya tidak terpaut jauh.
Tapi tak lama si pria berkata "Ibu?" dan dibalas oleh si wanita "Anakku?". Watdehell? Kalau si wanita melahirkan anaknya di umur 5 tahun sih, ya tidak apa-apa mereka disebut ibu dan anak. Tapi kalau memang begitu ceritanya, sakit banget ini si penulis cerita. Tidak mungkin, pasti tim castingnya ngawur. Ck, DRAMA! *Pindah channel.

Channel berikutnya sinetron lagi. Adegannya pria dan wanita naik perahu di atas danau (Hare gene kencan naik perahu? Plis deh). Entah bagaimana caranya tiba-tiba si wanita jatuh ke danau, diselamatkan oleh si pria, dibawa ke pinggir danau dan diberi pernapasan buatan. Hal pertama yang saya sadari adalah bedak dan blush on si wanita yang masih tebal, padahal dia basah kuyup dari atas sampai bawah. Bravo untuk tim make up! Yang berikutnya terjadi tidak kalah menggelikan, si wanita kaget karena begitu sadar, dia menemukan si pria sedang menciumnya (padahal ceritanya sedang pernapasan buatan) lalu si pria berkata "Oh maaf, aku.. aku tidak bermaksud, aku tadi sedang berusaha menyelamatkanmu". DU'ILEEEH... DRAMA LOH!! *Matiin TV.

Dammit! Dengan biaya produksi ratusan juta yang dikeluarkan untuk tiap episode sinetron, kenapa mereka tidak bisa membuat sesuatu yang lebih nyata sih? Kenapa harus se-drama ituuuu? Get real man! Tapi kemudian saya mendapat sebuah pertanyaan, sebenarnya apa yang nyata dan apa yang drama? Selama ini kebencian kita terhadap sinetron berlandaskan sebuah pemahaman bahwa ceritanya tidak "real", tidak nyata, tidak mewakili kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Ya kan? Tapi apa iya hidup kita sehari-hari lebih nyata dari sinetron? Apa jangan-jangan justru lebih drama? Bisa jadi. Let's have a reality check.

Rumah? Oh please.. Dont get me started. Rumah itu tempat nomer satu untuk urusan terjadinya drama. Jadi kita skip ini karena sudah pasti jawabannya iya.

Kantor? Coba kita lihat. Makan siang dengan orang-orang yang tepat, menjilat atasan tertentu, menyebar kabar burung tentang rival, mendekati (dan juga menjauhi) departemen tertentu, semua itu adalah langkah-langkah dan strategi yang kita lakukan agar karir bisa melesat mulus kan? Drama.

Facebook? Hmm... Mengganti status "In A Relationship" menjadi "It's Complicated" hanya untuk memberi tahu dunia tentang status hubungan anda dengan sang pacar. Yang kemudian memancing pertanyaan dari teman-teman anda "ada apa sih, kenapa sih, are you guys okay?" yang mana, pertanyaan-pertanyaan itu adalah reaksi yang anda harapkan untuk bisa curhat sampai berlinangan air mata tentang ketidakjelasan hubungan anda. Drama.

Twitter? Twitter itu didesain sebagai sebuah panggung agar para penggunanya bisa mementaskan apapun dalam 140 karakter. Drama yang efektif dan efisien. "Aduh, males deh malem ini harus packing" adalah sebuah drama yang mengatakan "Besok gue traveling dong, sementara elo semua harus ngantor. Emang enak!" atau "Cape deh harus masuk studio lagi buat mastering" adalah sebuah drama yang mengatakan "Saya ini musisi, lagi mau bikin album tau!" atau bahkan "rindu deh #nomention" pun sebuah drama. Bilang kangen ke orangnya langsung bisa kan? Tidak harus membuat pengumuman ke seluruh dunia dan berharap orang yang dimaksud "kebetulan" melihat. Hadeuh.

Saya lalu teringat ke sebuah kejadian beberapa tahun yang lalu. Setelah mengatakan putus dengan (mantan) pacar saya, saya ditampar, hujan tiba-tiba turun dan saya keluar dari rumahnya berjalan (bukan berlari lho ya, padahal sedang hujan) ke arah mobil saya, sementara (mantan) pacar saya memanggil-manggil nama saya tanpa saya hiraukan. Kalau itu terjadi di dalam sebuah sinetron, sudah pasti saya tertawakan habis-habisan sambil berpikir "Gak real banget sih. Mana ada kejadian dunia nyata bisa kayak gitu. Drama!". Tapi nyatanya, itu memang kejadian yang terjadi di dunia nyata yang saya alami sendiri. Saya tidak akan mengelak kalau setelah kejadian itu saya disebut sebagai drama king, padahal saya sering mengecap orang lain drama king atau drama queen.

Sepertinya saya lupa berkaca sebelum mencap orang lain sebagai drama king atau drama queen, karena menurut saya pada akhirnya kita semua adalah raja dan ratu drama dengan cara kita sendiri-sendiri. Dan bukankah hidup adalah sebuah film yang panjang? Dengan kita sebagai pemeran, penulis cerita dan sutradaranya sekaligus? Apakah "film" kita menjadi film "box office" atau tidak, itu tergantung kita sebagai pembuatnya, tapi yang jelas tidak akan pernah surut dari drama. Justru drama adalah nyawa dari hidup itu sendiri. What's life without drama?

Yes, life is BIG FAT drama. No surprise. Jadi bukan mustahil di sebuah tempat di dunia ini ada ibu dan anak yang usianya terpaut hitungan tahun, atau ada wanita yang diselamatkan dari danau dengan make up yang masih sempurna atau ada perwira polisi bisa terkenal mendadak dan dapat kontrak album senilai milyaran rupiah hanya karena posting video di youtube. Sebentar, yang terakhir itu kok seperti familiar yah? Ah, lupakan.. Anyway, apa yang terjadi di sinetron sekarang sepertinya adalah cerminan akan apa yang terjadi di dunia nyata. Jadi sebenarnya tidak adil mengatakan bahwa sinetron tidak nyata, karena tiap anda melihat ibu tiri menyiksa anaknya di sebuah sinetron, percayalah bahwa hal itu terjadi juga di dunia nyata. Mengerikan? Sangat.

Tapi kembali lagi ke fakta bahwa kita adalah pembuat film kita sendiri. Saya bisa saja membuat film saya sebagai film drama total 100% dengan latar belakang suram dan soundtrack galau, tapi untuk apa? Lebih menyenangkan mempunyai sebuah film drama dengan sentuhan komedi, sedikit petualangan, bumbu romance yang banyak dan tidak lupa.. a very very happy ending. Sebuah film yang bila diceritakan kembali akan membuat banyak orang tersenyum.

Itu rencana "film" saya, bagaimana dengan film anda?

Komentar

Postingan Populer