PILIHAN

Ini Gue dan Kakak gue


Beruntung punya kakak perempuan yang open-minded. Yaaah...walaupun tingkat nyebelinnya lebih tinggi daripada tinggat asiknya. Tapi tetep aja, punya kakak perempuan itu spesial. Lo gak akan pernah tau rasanya kalo lo gak puya kakak perempuan. Dan bagi kalian yang punya kakak laki-laki, gue iri. Soalnya gue belum pernah ngerasain gimana punya kakak cowok.

Let’s go to the point.

Jadi hari kamis minggu ini ada acara olimpiade pengetahuna sosial gitu di sekolah gue. Jadilah anak-anak pada diliburin gara-gara lokal kelasnya dipake. Bahagia jadi murid di sekolah ini, karena sekolahnya luas dan deket dari mana-mana jadi sering dipake buat kegiatan-kegiatan gitu.

Daripada gue nganggur dirumah, gue akhirnya mutusin buat ngajak kakak gue berenang. Sekalian refreshing ceritanya. Jadi sekitar jam sembilan pagi itu gue berangkat ke kolam renang yang notabennya itu hotel -kolam renangnya sih biasa aja, tapi karena cuma ini kolam renang yang gue dan kakak gue tau, yang asik dan kejangkau dari rumah dan udah dari kecil berenang disitu-.

Berenang-berenang-berenang, ujung-ujungnya kecapean. Akhirnya nyantai di pingggir kolam, terus sharing tentang apapun itu namanya.

Kakak gue ngebahas tentang talkshow pagi ini yang ditonton. Tentang sekolah –universitas- di luar negeri. Buat anak-anak yang open-minded, itu sih gapapa. Wajar, normal dan malah menantang banget. Tapi buat orang yang biasa aja, itu terkesan “buat apa? Toh di sini juga banyak sekilah bagus. Nantibegini nya gimana? Blablablaaaaaa”.

Sekolah di luar bakal nambah pengalaman, buka wawasan lebih, nambah banyak ilmu, nambah pergaulan dan nambah cerdas. Kebanyakan anak-anak yang sekolah diluar akan berpikiran beberapa langkah lebih maju dibanding anak yang sekolah di dalam. Kayak misalkan, mereka udah mikirin gimana me-rekayasa genetik-kan duren di Indonesia biar cepet buah, dan gak cepet busuk waktu di kirim ke Ethiopia naik kapal laut. Atau mereka bakal mikirin gimana cara bikin smart shoe yang gak bikin nyetrum penggunanya, yang bisa ngehapal jalan pulang jadi kita tinggal mejem aja, yang bisa bedain yang mana kotoran burung sama yang mana kotoran kucing biar gak keinjek. Dan masih banyak hal yang akan mereka pikirkan buat kehidupan di masa depan.

Sedangkan anak-anak yang sekolah di dalam negeri mungkin bakal berfikir kayak misalnya gimana cara mereka biar bisa jadi PNS dengan sekali tes tanpa nyogok, yang biaya pensiunnya udah jelas . Atau bagaimana cara mereka biar direkrut perusahaan A yang gajinya belasan juta per-minggu yang kerjanya Cuma8 jam per-hari. Atau mereka sudah cukup merasa berhasil dengan kerja di pertambangan minyak yang kita gak tau bakal abis kapan, yang kerjanya di tengah laut anatah-berantah, yang pulangnya seminggu dalam satu tahun yang gajinya miliaran rupiah pertahun.

Gue bukannya membeda-bedakan anak-anak yang sekolah di dalam negeri dan diluar. Honestly, itu memang bener. Kita di sini, ditempat yang nyaman, deket sama orang tua, bakal milih jalan yang mulus. Sedangkan anak-anak di luar negeri sana, mereka ingin lebih membanggakan orangtua bahkan negara mereka degan bikin segala macam penelitian antah-berantah yang mungkin berguna di masa depan. Gue gak bilang kalau anak-anak yang sekolah di dalam negeri kurang membanggakan, tapi memang cara berpikirnya berbeda. Itu yang membedakan.

Lain lagi urusannya kalau kita ngomongin tentang bahagia. Anak-anak mana yang tidak bahagia bisa masuk ke universitas yang diidam-idamkan anak-anak di penjuru dunia? Pasti bahagia rasanya. Tapi apakah sepadan dengan gak bisa libur lebaran di kampung halaman? Dengan puasa tanpa takjil khas Indonesia? Dengan puasa (mungkin) lebih dari 12 jam? Tentu kebahagiaan itu kayak hilang gitu aja. Sedih, pastimikirin mama & bapak di rumah. Sedangkan anak-anak yang sekolah di dalam negeri bakal ngeasa lebih baik. Misalkan sekolah di luar kota, pasti ada libur lebaran. Dan waktu buat berbakti sama orangtua pun bakal lebih banyak. Dan bagi yang sekolah di luar, who knows?

Memang hidup cuma sekali bung, itu pilihan kalian mau gimana.

Poin yang mau kakak gue capai disini adalah hidup itu hanya sekali dan terdapat banyak pilihan yang sangat membingungkan kita, kita sebagai manusia harus bisa memilih pilihan mana yang tepat buat kita untuk sekarang dan untuk masa depan kita nanti. Seandainya kita berhasil sekarang dan di masa depan kita gak bisa menikmati hasil kerja keras kita, rugi bukan? Dan kalau sekarang masih biasa-biasa aja terus di masa depan kita bisa sukses? Menang banyak namanya. *apaaasiih

Tapi balik lagi sama diri kita, bisa aja kita hidup di tempat yang biasa-biasa aja tapi diri kita yang bikin kita jadi lebih produktif, lebih bermanfaat bagi orang banyak, lebih berbakti sama orangtua, dan lebih semangat. Pasti hasilnya bakal lebih baikuntuk kedepannya. Sekian.

Komentar

Postingan Populer