The Beginning of Third Smester


Bukan awal dari semester tiga. Karena ini semester dua yang belum selesai-selesai masa berlakunya. Cih. Gue masih merasakan ujian remedial tanpa henti, tanpa tau waktu kapan, tanpa mengenal harapan. Kami masih di dalam asrama, belum beranjak dari tempat pengasingan ini. Tapi kami butuh sedikit waktu untuk beranjak dari sini.

Tempat pengasingan ini membuat banyak perubahan buat gue. This place is so damn torturing me. Torturing us actually. The damn horrible old stories shouldn’t be going any longer huh.

Bagi gue pertemanan membuat segalanya lebih mudah. Karena buat gue semuanya telah merasakan hal yang sama. Merasakan treatmen ‘torturing’ yang sama, meskipun dengan ‘impact’ yang berbeda buat setiap orangnya. Bagi gue semua berjalan baik, semua berjalan melelahkan seperti sebagaimana seharusnya itu melelahkan.

Flash back ke waktu lampau, gue memang mengenal beberaa jenis orang dan suka give them judges about everythings they did, in my head. But that’s not a good idea. Semestinya gue ngga menilai mereka dari sudut pandang gue. Seharusnya gue nggak menilai mereka, seharusnya gue mengambil pelajaran dari apa yang mereka telah perbuat dan memikirkan impact apa yang akan terjadi kepada mereka jika melakukan hal itu. Just that simple. Think about the future accident.

Things goes well overall.

Gue mengenal orang-orang lebih lama dari biasanya. 12 bulan kurang-lebih, dari bangun tidur-sampe mau tidur. Tau kebiasaan beberapa orang, tau sifat orang-orang di situasi yang berbeda. Gue jadi tau mana yang batu dan mana yang bener-bener batu. That sounds good. And the other good news is that ue jadi lebih bisa membawa diri gue dihadapan mereka.

Ini adalah tujuan gue berada di tepat pengasingan ini. Bisa membawa diri dengan tepat di depan orang-orang dengan berbagai macam sifat. Bisa sedikit memecahkan masalah pribadi dengan tidak lari dari masalah. Mendengar berbagai cerita dari sana-sini. Menjadi lebih mask-person.

Ada yang benar bisa mendengarkan agar didengar. Ada yang rela mendengarkan tanpa bisa memastikan apa ada yang mendengarkan dia bicara. Bagi gue, cukup dengan mendengarkan dan mempelajari, buka mendengarkan untuk didengarkan. Karena yang mendengarkan gue nantinya bukan tentu bisa menjamin beban gue jadi berkurang. Cih.

Komentar

Postingan Populer